Memang sulit menjadi orangtua, terutama orangtua yang merasa dirinya mempunyai pengalaman dan wawasan, untuk mengarahkan anak-anaknya dalam memilih tujuan hidupnya. Dan pada dasarnya setiap orangtua selalu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, walau bagi si anak, orangtua terasa seperti mendikte atau memaksakan. Terkadang diperlukan bantuan pihak ketiga, untuk menjembatani perbedaan tersebut, agar masing-masing pihak dapat melihat secara jernih dan terbuka.
“Saya sadar ternyata saran orangtuaku tak salah,” kata seorang teman. Teman ini di awal perkuliahan sering membolos, dan sekedar datang kuliah tepat waktu saja merupakan hal yang sangat baik. Dari omong-omong dengan teman tadi, ternyata dia sebetulnya tak menyukai pilihan kuliahnya. Teman tadi cukup beruntung, karena otaknya encer, jadi walau kuliah ogah2an, dia bisa terus naik tingkat dengan nilai yang lumayan baik. Setelah tahun ketiga, rupanya teman tadi makin tertarik dengan kuliahnya, yang pada semester tersebut, setiap mahasiswa dapat memilih jurusan yang disukai. Dan dapat diduga, nilainya melejit, dan dia bisa menyelesaikan kuliah dengan mudah, bahkan melanjutkan ke S2-S3 dengan mendapatkan beasiswa. Saat ketemu, kami menanyakan bagaimana perasaan dia sekarang, teman tadi menyatakan dengan jujur, dia bersyukur mempunyai orangtua yang dapat melihat visi ke depan serta memahami kelebihan dan kekurangan anaknya.
Teman yang lain, menceritakan betapa ayahnya pernah jatuh sakit, hanya gara-gara kakaknya yang telah diterima di Fakultas Kedokteran, di salah satu universitas terbaik di Jawa Timur, pada tahun keempat keluar dan pindah ke jurusan teknik di Universitas swasta. Walau pada akhirnya kakak teman tadi selesai kuliahnya, namun situasi telah menjadi tidak enak.
Sekarang, pada umumnya saat kelas 2 SMA telah dapat dilakukan tes psikologi, untuk mengetahui bakat dan minat seorang pelajar sebaiknya akan melanjutkan kuliah dimana. Karena pernah ikutan bertugas di sebuah bimbel, dan membantu ortu yang ingin tahu sebaiknya anaknya mendaftar kemana, saya menjadi mengerti bahwa memilih jurusan untuk kuliah itu tidak mudah. Pada saat itu, saya memahami bagaimana orangtua stres menghadapi anaknya, namun si anak juga pusing. Ada istilah, jika orangtua sukses, dia menginginkan anaknya lebih sukses dibanding orangtuanya. Dan jika orangtua punya mimpi yang belum tercapai, maka orangtua ingin agar si anak dapat menggapai mimpi itu. Tugas saya saat itu adalah menjembatani keinginan orangtua dan anak, agar tetap sesuai dengan hasil test psikologi, namun juga tak menimbulkan pertentangan.
Terkadang anak juga ikut teman, kalau rata-rata temannya ingin melanjutkan ke Fakultas Kedokteran, maka anak juga ikutan ingin kesana, tanpa melihat kemampuannya. Pada saat ini jurusan yang disediakan oleh Perguruan Tinggi begitu beragam, dan terkadang kita melihatnya harus berhati-hati…..karena ada juga jurusan yang ternyata tak sesuai dengan yang tercantum dalam buku panduan. Di dalam buku panduan hanya dicantumkan jurusan, tanpa mencantumkan detail materi perkuliahan dari tahun pertama sampai selesai.
Saya masih ingat saat saya mendaftar masuk ke suatu Fakultas melalui surat, betapa malunya saat sudah diterima, ternyata jurusan yang saya cantumkan dalam surat lamaran, sebetulnya bukan jurusan namun hanya salah satu bagian dari materi perkuliahan. Namun universitas tersebut, yang menyadari bahwa saat itu (tahun 70 an) memang para siswa SMA belum terlalu mengenal, yang penting adalah nilai rapor sejak kelas 3 SMP sampai dengan nilai kelulusan SMA memenuhi persyaratan. Saat diterima sebagai mahasiswa, yang rupanya Universitas menyadari bahwa para mahasiswa berdatangan dari seluruh pelosok Indonesia, maka dalam surat penerimaan, disertakan juga barang-barang apa yang minimal harus dibawa, seperti selimut, jas hujan atau payung, obat2an yang biasa diminum. Diberikan peta, cara mencari gedung Rektorat, rute bemo, cara mencapai wilayahnya (dari Jakarta atau Bandung), serta tempat mencari kos2 an.
Mungkin kesan pertama ini yang membuatku langsung menyukai tempatku kuliah, walau sebetulnya kuliah disini bukan pilihan pertama, dan kebetulan saya indekost di tempat dosen. Pada saat awal 70 an, para dosen yang rumah dinasnya di sekitar universitas diinstruksikan dapat menampung sementara anak-anak yang berdatangan dari luar daerah, juga asrama putri dan asrama putra, yang juga berdekatan dengan kompleks universitas tersebut. Padahal universitas ini adalah bukan pilihan pertama, namun akhirnya saya juga menyadari bahwa disinilah sebetulnya tempatku yang sesuai. (bluish18)
